Jumat, November 27, 2009

Cerita-cerita dari Kampung Berua

Jumat, November 27, 2009 4

Lewat pukul sembilan malam, wawancara saya bersama beberapa warga Kampung Berua terpaksa saya akhiri. Meski bapak kepala lingkungan dan beberapa warga menahan untuk bermalam, saya akhirnya pamit pulang dan berterimakasih banyak atas keramahan dan kebaikan mereka. Besok pagi masih ada diskusi terakhir dengan beberapa warga dan kemungkinannya akan berakhir siang seperti biasa.

Mimpi-mimpi tentang PNS

Saya diantar pulang oleh seorang warga bernama Lukman. Ia masih bersekolah di SMK mengambil jurusan Perkantoran. Ternyata ia adik ipar salah seorang informan saya. Awalnya ia kurang percaya diri menyebutkan jurusan yang ia pilih. Saya hanya tersenyum mengingat kakak iparnya. Saat bincang-bincang tadi, sang kakak menjelaskan arti penting pendidikan bagi mereka. Katanya bersekolah adalah syarat utama untuk menjadi PNS. Orang-orang dilingkungannya tak ada satu pun yang menjadi PNS.

Saya penasaran dengan alasan tersebut. Kenapa menjadi PNS begitu penting di tengah-tengah keseharian mereka sebagai petani bawang. Setelah perbincangan dengan mereka, tanda tanya saya mulai menemui titik terangnya. Saya memperhatikan hal ini dengan melihat bagaimana program-program penanggulangan kemiskinan dikelola. Pada beberapa kasus hasil perbincangan dengan mereka terjadi beberapa distribusi pelaksanaan program yang tidak merata, salah satunya adalah program PNPM terkait pipanisasi air. Awalnya saya juga heran, karena di lingkungan mereka pipanisasi itu sudah ada. Belakangan, berdasarkan informasi dari mereka, pipanisasi tersebut bukan berasal dari bantuan PNPM. Melainkan dari proposal yang mereka buat sendiri dan tawarkan ke salah satu dinas yang ada di kota kabupaten.

Menurut salah satu warga, keadaan tersebut terjadi karena di antara beberapa aparat kelurahan tak satupun dari mereka termasuk didalamnya, berbeda dengan kampung-kampung lainnya. Bagi saya kebutuhan menjadi PNS adalah modal baik politik maupun sosial bagi mereka. Menyandang status itu adalah tiket untuk melakukan banyak hal. Keseharian mereka yang bersentuhan langsung dengan aparat-aparat pemerintahan kemungkinan menjadi alasan utama. Dalam persentuhan ini, mereka berada pada posisi lemah. Menjadi PNS kemudian menjadi cara agar mereka bisa berada pada posisi setara dengan kampung-kampung lainnya.

Air, Bawang dan Begadang

Dari beberapa cerita warga, saya memahami ketergantungan mereka terhadap air sangat tinggi. Air bukan cuma untuk air minum, tetapi juga menjadi jaminan bagi keberhasilan panen bawang mereka. Di mulai dari cerita ini pula, saya juga memahami kenapa program pengadaan pipanisasi air menjadi hal yang sering mereka persoalkan. Dengan air, bawang yang mereka tanam bisa terhindar dari gagal panen. Sementara untuk memenuhi kebutuhan-kebuthan mereka sehari-hari, mereka hanya menyandarkannya pada panen tersebut.

Begitu pentingnya air bagi mereka, sehingga, menurut beberapa warga, mereka seringkali begadang hingga subuh hanya untuk antri menyiram bawang-bawang mereka. Saya sendiri sangat ingin menyaksikan aktivitas ini, tapi sayang waktu saya tidak mencukupi, masih harus mengerjakan banyak hal berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan.

Mayoritas warga Kampung Berua menjadikan bawang sebagai tanaman utama mereka. Jika akhir musim hujan tiba, mereka akan beralih untuk menanam jagung. Penanaman bawang di awal musim hujan juga merupakan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman bawang terhadap air yang tinggi.

Cerita Singkat Sumur Keramat

Saat tiba di penginapan, saya menahan Lukman untuk menemani saya ngobrol. Kami bersenda gurau hingga saat ku tanya apakah ia pernah naik gunung. Ia menjawab hanya menaiki bukit-bukit kering yang ada di tempat tinggalnya. Katanya di sana juga ada sumur keramat.

Saya tertarik dengan cerita tersebut, apalagi kata keramat di belakang sumur tersebut. Katanya, “di sana ada ular besar yang menjaga sumur itu,” Sebelum ada pipanisasi air, kebutuhan warga akan air di penuhi oleh sumur tersebut, “airnya ndak pernah kering, biar musim kemarau,”. Di antara daerah-daerah yang ada di situ, hanya kawasan sumur itu yang hijau, “Kalau siang udaranya dingin,” katanya. Dulu juga di tempat itu masih sering dijumpai banyak monyet.

Selain sebagai sumber air, sumur tersebut juga menjadi tempat para warga membawa sesajen. Apalagi jika hajat mereka terhadap sesuatu terpenuhi. Tetapi sekarang sejak warga sudah menggunakan fasilitas air yang mengalir dari pipa-pipa hingga ke rumah, mereka tak lagi menggunakan air tersebut. Pohon-pohon besar yang ada dalam kawasan tersebut juga sudah ditebangi. Menurut Lukman ,“para penunggu sumur keramat itu sudah pergi, kini kita sudah tak pernah melihat monyet-monyet, mereka telah pergi entah ke mana.”

Saya keasyikan dengan ceritanya, seperti dongeng di masa kanak-kanak dulu. Tanpa saya sadar malam telah larut. Ia berjanji menemani saya ke sumur tersebut, “besok siang kak sehabis pulang sekolah“ katanya. Esok siangnya, kami tak jadi bertemu. Ia masih di sekolah dan saya bersama tiga orang teman harus kembali ke Makassar.

Dalam perjalanan pulang melewati jalan sepanjang Jeneponto yang tersengat panas matahari. Saya membaca balasan pesan singkat dari Lukman, ” Maaf kak, saya tidak sempat mengantar kakak ke sumur itu.“ Saya membayangkan lima tahun ke depan, saat sang pahlawan muda menjadi meriam, menyorakkan aspirasi mereka. Saya juga membayangkan tentang pipa-pipa air yang rusak dan sumur angker itu yang telah mengering.


Jeneponto, 12 oktober 2009

Jumat, Oktober 16, 2009

Kisah Haji Bone

Jumat, Oktober 16, 2009 0
Berdasarkan cerita beberapa warga, saya mendapat informasi mengenai keluarga kaya yang kemudian jatuh miskin. Rumahnya terletak sekitar 300 meter dari kantor kelurahan. Akhirnya dengan ditemani seorang ibu yang bekerja di kantor kelurahan Manjangloe saya menuju rumah keluarga tersebut.

Sewaktu kami memasuki pekarangannya, perempuan tua itu sedang terbaring di beranda rumah panggungnya. Saat kami mengucapkan salam, ia bangkit dengan segera dan mengikat rambut panjangnya yang terurai. Kami lalu dipersilahkkan masuk kerumahnya. Penampilannya seperti ibu-ibu kebanyakan dengan baju daster biru bermotif kembang membungkus tubuh kurusnya.

Setelah memperkenalkan diri dan maksud kedatangan saya kami mulai bercakap-cakap. Sedikit demi sedikit wajahnya yang berkerut penuh tanya mulai mengendur. Sekilas saya memperhatikan gambar-gambar yang terpajang di ruang tamunya. Tampak fotonya bersama seorang anak. Hari ini keadaannya sangat berbeda, tulang lengan dan kakinya terlihat jelas dibalik kulitnya.

Tanpa saya sadari percakapan antara kami mulai mengalir. Ia mulai mengisahkan kehidupannya beberapa tahun lalu sewaktu usaha penjualan pakaiannya berjalan lancar. “Kami memiliki satu kios di pasar, di kota Jeneponto, satu pete-pete (angkot), dan tiga motor.” Keuntungan dari usahanya tersebut juga tidaklah sedikit, “dulu, kalau hari-hari biasa kami bisa mendapat keuntungan minimal 50 ribu rupiah, jika di musim pesta pernikahan dan menjelang idul fitri keuntungan bisa mencapai 300 hingga 500 ribu dalam sehari.”

Awal kejatuhannya di mulai pada tahun 2005. Saat itu, ia harus menikahkan tiga orang putranya dalam waktu yang berdekatan dengan biaya yang tidak sedikit. Suaminya yang sakit, semakin memperlemah keadaan keuangan keluarga. Berulang kali ia harus bolak-balik ke rumah sakit dengan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Hal ini mereka hadapi sendiri tanpa bantuan keluarga dan orang lain,“kami tidak meminta bantuan kepada keluarga, kami merasa malu sebagai orang yang selama ini berpenghasilan lebih dari cukup.” Ia lebih memilih meminjam uang kepada orang lain dengan bunga 20 persen pertahun.

Saat sang suami meninggal modal usahanya juga habis tak tersisa, bahkan utang-utangnya menumpuk. Akhirnya ia harus menjual kios dan kendaraan miliknya. Hingga sekarang utang-utang tersebut belum juga lunas. Untuk biaya hidup sehari-hari, ia hanya berharap bantuan dari anak-anaknya yang juga tak memiliki penghasilan memadai. Hanya rumah panggung kayu sisa-sisa harta yang dipunyainya, itu pun sertifikat tanah tempatnya berdiri sudah dijadikan jaminan kepada bank. Kini, layaknya warga miskin lainnya ia didaftarkan agar dapat menerima program-program bantuan seperti RASKIN dan BLT. Sampai saat ini ia masih sulit untuk mempercayai apa yang menimpanya.

Kisah Haji Mukin

Kemarau telah menjadi hal yang akrab bagi penduduk di kabupaten Jeneponto. Suhu di siang hari bisa mencapai 37 derajat celcius melebihi daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Rendahnya curah hujan membuat sumur-sumur galian dan areal pertanian mengering kekurangan air. Sehingga penghasilan warga dari bertani tak lagi dapat diandalkan. Keadaan ini menjadi salah satu alasan bagi sebagian orang-orang melakukan perantauan ke daerah-daerah lain.

Di antara para perantau, Haji Mukin adalah salah satu warga yang terbilang beruntung. Sepulang dari negeri Jiran kondisinya mengalami perubahan yang jauh berbeda dengan 30 tahun lalu sebelum merantau. Sulitnya air yang dapat digunakan untuk lahan pertanian membuat penghasilannya sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini juga menjadi alasan baginya meninggalkan kampung halaman. “Dulu, jika kehabisan beras, kami memakan Kaloi yaitu ubi kayu yang dikeringkan”, kisahnya mengingat masa lalu.

Di tahun 1979, Mukmin memutuskan mencari penghidupan di tempat lain. Ia mencoba menantang nasib di perantauan. Pulau Batam menjadi tanah tempat berlabuhnya pertama kali. Di sana ia membuka usaha berjualan batu yang biasa digunakan sebagai bahan pondasi bangunan. Tetapi usaha ini jauh dari harapannya untuk menaikkan kesejahteraan. Sehingga ia memutuskan untuk hengkang ke Kalimantan.

Di Kalimantan, ia meneruskan perantauannya di Malaysia tanpa dilengkapi paspor. Di negeri tetangga ini ia bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit. Pernah suatu kali ia tertangkap pihak kepolisian Malaysia karena tak memiliki dokumen resmi, namun dapat meloloskan diri. Di sana, kehidupan yang dijalaninya cukup sulit. “Pendapatan kami sangat tergantung seberapa banyak sawit yang kami petik, kami harus bekerja keras jika ingin mendapatkan pendapatan yang lebih”, kisahnya mengenai pekerjaan sebagai buruh perkebunan.

Di tahun 2002, ia meninggalkan Malaysia dan balik ke kampung halamannya. “Saat itu orang tua saya sedang sakit dan tak lagi mampu bekerja”, katanya saat ia ditanya mengapa memutuskan pulang kampung. Beruntung ia mendapat pesangon lumayan besar dari perkebunan tempatnya bekerja. Uang tersebut digunakan untuk membangun rumah yang cukup besar, membeli tanah dan ongkos naik haji.

Saat ini ia tergolong sebagai satu-satunya warga yang dinilai berkecukupan oleh masyarakat di lingkungan Berua dan terpilih sebagai kepala lingkungan. Bersama warga lainnya, Haji Mukin juga masih melanjutkan pekerjaannya sebagai petani seperti dulu. Baginya hidup di tanah sendiri lebih membahagiakan dibanding di negeri orang, sebagaimana kata pepatah “Hujan emas di kampung orang hujan batu di kampung sendiri”.

Prolog: Merawat Ingatan


Lebih dari seminggu saya luntang-lantung di kelurahan Raya di kabupaten Maros dan kelurahan Manjangloe di kabupaten Jeneponto. Kerja saya adalah berbincang dengan beberapa warga di dua kelurahan tersebut. Seringkali hal tersebut terjadi tanpa struktur yang baku. Saya berusaha mengikuti arus, membiarkan diri dalam kendali cerita-cerita yang mengalir deras dan terkadang tenang menghanyutkan. Terkadang perbincangan tersebut memiliki banyak cabang seperti sungai bersama anak-anaknya yang bermuara di samudra luas. Pada akhirnya perbincangan itu mengajarkan banyak hal tentang beragam cara orang-orang bersiasat dengan hidup, berontak dari nasib, kejatuhan hingga kebangkitan, dan tentu saja merasakan beragam dimensi rasa mulai dari kemarahan, kesedihan, kegembiraan, hingga lelucon sekalipun.

Saya beranggapan bahwa salah satu cara agar kita tak mudah lupa adalah dengan mengisahkannya kepada yang lain. Saat ini saya juga tengah belajar untuk melihat diri sendiri melalui cara saya menuliskan cerita tersebut. Atas dasar itulah tulisan-tulisan ini hadir dalam SANG ALANG. Semoga oleh-oleh ini bisa membahagiakan para pembaca sekalian. Selamat membaca.

Minggu, Oktober 11, 2009

Saya Hanya Rindu Pulang

Minggu, Oktober 11, 2009 0

Sudah dua hari saya menginap di hotel tetapi perasaan saya selalu merasa tidak nyaman. Barangkali saja karena tidak terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Seringkali, beradaptasi dengan lingkungan baru tidaklah selalu menyenangkan. Terkadang banyak benturan yang mesti dihadapi. Seringkali pula saya dapat melewati hal itu dengan cepat. Tetapi kali ini, setiap berusaha menahan benturannya rasa sedih yang aneh mendatangiku.

Selama di hotel saya selalu mengingat orang-orang yang saya wawancarai kemarin. Beberapa dari mereka hidup dengan penghasilan 250 ribu sebulan. Saya bertanya dalam diri saya sendiri, "bagaimana duit sebesar itu bisa menghidupi mereka?" apalagi dengan tambahan tanggungan anak. Seberapa kuat pertahanan mereka mengencangkan perut? Tentunya duit sebesar itu berarti besar untuk menyambung hidup. Jumlah yang hanya mereka capai setelah bercucuran keringat. Sangat jauh dengan apa yang saya lakoni dua hari ini. Penghasilan mereka sebulan habis hanya dalam beberapa detik untuk sewa kamar sehari.

Saya ingat sebuah jargon, kalau tidak salah kata-katanya seperti ini “work hard but party even harder.” Isinya menyinggung gaya hidup para pekerja kelas menengah yang menghabiskan lima hari mereka dengan kerja keras tetapi dua hari berikutnya pesta mereka lebih keras lagi. Berbeda dengan apa yang saya lakukan, setidaknya mereka masih berani menegaskan diri dengan kata-kata tersebut. Sedangkan saya, bekerja tapi tak menikmati "pesta" ini. Seperti kata seorang kawan beberapa tahun lalu, ”posisi yang paling tidak nyaman adalah saat kau berada pada titik-titik kompromi.“

Saya mengimajinasikan diri saya ibarat berjalan menuju ke kamar hotel dan di depan saya terhampar ruang seperti maze. Beberapa kali saya dibingungkan karena setiap lorong-lorongnya mirip satu sama lain. Saya membayangkan seandainya saja nomor-nomor kamar itu tidak di pajang untuk menunjuk deretan kamar saya menginap, saya akan tersesat dan berputar-putar dalam kebingungan menemukan lorong yang seharusnya saya tuju, terasing dalam kebingungan saya sendiri dan terjebak di antara dua dunia yang tak dapat lagi kubedakan batasnya.

Sambil mengetikkan paragraf akhir ini, Si kotak ajaib masih terus mengoceh, cicak sang penunjuk waktu juga tak mau kalah akan detaknya. Mereka dengan setia mengiringi pengantin malam menuju matahari sang mempelai. Suara-suara dalam diri saya telah demikian sunyi karena kelelahan. Saya rindu tempat tidur yang tidak cukup empuk, tempat yang paling setia menawarkan hangatnya dan menerima tubuh ini. Saya hanya rindu pulang, butuh tangis, butuh sedu sedan.


......kerinduan adalah cara cinta menumbuhkan sayap pada manusia agar ia dapat terbang menjumpai kekasihnya....




Sabtu, September 26, 2009

Jakarta yang Menghantui

Sabtu, September 26, 2009 2


Entah beberapa waktu telah lewat, saya tak pernah lagi memikirkan tentang beda Jakarta dan tanah tempatku menetap. Hingga siang tadi setelah membaca teks perbincangan di salah satu wall pengguna situs jejaring sosial online facebook 1, ingatan-ingatan tentang itu bangkit kembali. Dalam perbincangan tersebut, mereka dengan loe-gue penuh semangat mencibir orang-orang di mana saya dibesarkan yang terletak di luar kota metroplis itu. Sekaligus membangun kebanggaan bahwa mereka istimewa hanya karena besar di ibu kota negeri tercinta ini.

Seketika perasaan geli menyetrumku hingga ke ulu hati. Lambung saya sontak mual, untunglah tidak sampai memuntahkan isi didalamnya. Kepala saya berputar-putar akan paradoks orang-orang yang mengatas-namakan Jakarta sebagai identitas dengan praktik hidup mereka. Apakah karena ia menjadi tempat bersarangnya mall-mall raksasa dan gedung-gedung tinggi nan angkuh hingga dapat dijadikan alasan untuk menghakimi daerah di luarnya sebagai kampungan, udik dan tak moderen? Seolah-olah hidup diluarnya adalah suatu hal yang membawa aib.

Sebagai tempat yang direkayasa sedemikian rupa bahkan dipaksakan, Jakarta menjadi pusat semua hal mulai dari pembangunan ekonomi, pertumbuhan gedung-gedung bertingkat, industri hiburan, pendidikan, pemerintahan- sebagaimana terbangun di masa kolonial 2 hingga Orde Baru dan mungkin saja hingga hari ini- dan jika kita harus konsisten dengan logika ini, setidaknya manusia-manusia yang tumbuh didalamnya juga menjadi pusat penerang bagi manusia lainnya.

Ataukah karena ia adalah arena perang bagi orang-orang yang mempertaruhkan keberanian. kenekatan hingga status sosialnya? Tapi tidakkah setiap tempat juga memiliki masalah dan tantangan yang berbeda. Orang-orang di tanah kelahiran saya memilih mengangkat palu, sekop, dan gergaji demi menyekolahkan anak-anak mereka atau sekedar di habiskan di warung-warung tuak, seperti halnya beberapa eksekutif muda di tempat hiburan malam yang menumpahkan lelah dan kejenuhan akan rutinas kerja. Pada titik ini, tiada beda antara orang-orang tersebut baik Jakarta maupun tanah kelahiran saya.

Jika memikirkan hal di atas dan menimbangnya dengan teks-teks di Facebook tadi, saya menyaksikan hal sebaliknya. Orang-orang ini adalah katak dalam tempurung, hidup dalam dunia yang terbatasi oleh angan-angan dan kebanggan semu kemudian berkoar-koar seolah-olah mereka telah melihat seluruh semesta. Saya sama sekali tidak bermaksud membuat generalisasi, kecuali terhadap orang-orang yang mempraktikan hal ini dalam kehidupan sosial di mana kita juga hidup didalamnya.

Apa yang menjadi kebanggaan pada praktiknya hanyalah sebatas logat loe-gue. Saya melihat hal ini sebagai ketakutan melepaskan kuasa terhadap orang-orang di luar mereka. Sehingga, budaya lain tak diberikan panggung untuk menampilkan dirinya. Anda dapat merenungkannya jika menyempatkan diri menyaksikan sinetron kebanyakan dalam kotak sihir di rumah-rumah kita.

Bagiku gembar-gembor Jakarta sebagai pusat dan standar nilai adalah hantu-hantu hasil peninggalan kolonial. Hingga saat ini saya tidak melihatnya sebagai suatu kemegahan dibandingkan daerah lainnya. Sama halnya di tiap tempat yang saya singgahi, masing-masing hidup dengan dinamikanya. Hanya saja pikiran saya selalu terusik ketika ada pemaksaan cara pandang sarat penipuan. Tuhan Yang Maha Pemurah menciptakan dunia ini demikian indahnya, sepantasnyalah kita kemudian mensyukuri dan membangun kedamaian diatasnya.


catatan

1 Saya sengaja tidak mencantumkan teks-teks perbincangan itu. Meski halaman Facebook bisa diakses oleh setiap orang, saya berusaha agar tidak sampai menampilkannya dengan pertimbangan teks-teks tersebut bisa jadi hal yang sangat privasi bagi kedua user tersebut.

2 Robert Van Neil dalam bukunya “Lahirnya Elit Modern Indonesia” (terj) menjelaskan selain menjadi pusat pemerintahan Batavia juga menjadi pusat pelaksanaan politik etis khususnya pendidikan. Pada titik ini saya memahami bahwa hal ini juga menciptakan landasan yang kokoh bagi perkembangan Jakarta nantinya.

Rabu, Agustus 19, 2009

Poppo’: vampir dari Bugis*

Rabu, Agustus 19, 2009 0

Pernahkah anda membayangkan seandainya vampir itu benar-benar hidup di sekitar kita? Apakah anda sama takutnya dengan orang-orang dalam imaji film-film yang menjadi incaran para vampir? Atau bagaimana jika seandainya saja anda sebagai vampir? Bayangan saya anda akan sama sakitnya seperti vampir-vampir dalam film jika tak mendapatkan darah di saat anda lagi sakaw teramat sangat.

Mungkin pertanyaan-pertanyaan saya terlampau mengada-ada akibat terlalu sering menghayati film-film bertema vampir. Hingga tanpa disadari, saya tak lagi mampu membedakan antara yang nyata dan tak nyata atau sebagaimana bahasa para psikiater, saya tengah mengidap skizoprenia. Tetapi ada hal yang akan saya ceritakan kepada anda tentang kisah serupa vampir yang hidup dalam masyarakat Bugis.

Sekitar tiga tahun lalu, seorang kawan berniat menyusun skripsinya mengenai Poppo’ 1. Hingga meraih keserjanaannya niat ini tak kesampaian. Ia tak meneruskannya dikarenakan sang pembimbing tak merestui niat tersebut. Padahal ide ini sangat menarik. Pertama, ide ini di luar dari karya-karya mainstream yang dihasilkan di jurusan kami, kedua tantangan untuk bersentuhan langsung dengan mereka yang di kepala orang-orang yang meyakininya sebagai suatu ancaman.

Kemarin, kami berkunjung kerumahnya yang terletak di kelurahan Pekabattae, Kabupaten Pinrang. Kisah tentang poppo’ ini berlanjut lagi setelah seorang kawan bertanya padanya tentang hal tersebut. Saya sendiri mengenal kata ini sewaktu kecil. Poppo’ kerap diceritakan sebagai orang-orang yang memiliki kemampuan memakan hati manusia dengan jalan menghisapnya melalui dubur. Biasanya korban mereka adalah anak bayi dan paling sering orang-orang yang dalam keadaan sakit . Ketika berpindah ke Sulawesi Tenggara, saya juga mendengarkan kisah serupa dari seorang kawan yang beretnis Bugis2. Cerita ini dikisahkan di beberapa tempat sebagai horor yang menakutkan 3.

Terdapat cerita populer tentang asal kejadian Poppo’. Menurut kawan saya, seseorang menjadi Poppo’ karena diwariskan oleh orang tua mereka 4. Menurutnya, dalam satu keluarga biasanya terdapat satu anak yang mewarisi hal tersebut. Dalam kesehariannya Poppo’ tak berbeda dengan manusia lainnya, mereka juga berpenampilan seperti yang lain, seperti shalat di masjid dan bergaul bersama. Masyarakat di luar mereka juga tetap menghadiri acara-acara yang diadakan mereka. Begitu pun menyangkut partisipasi politik, mereka juga tidak dipinggirkan 5.

Berdasarkan pernyataan teman saya, Poppo’ tak dapat dikenali secara kasat mata kecuali orang-orang yang memiiki kemampuan atau ilmu tertentu. Dari informasinya, seorang bidan bisa mengenali bayi yang mewarisi darah Poppo’ dengan melihat ciri-ciri tertentu pada saat ia lahir. Kawan saya tak tahu apa yang dilihat oleh bidan tersebut. Katanya itu adalah pengetahuan khusus yang dimiliki sang bidan setelah sekian lama membantu proses kelahiran. Sayangnya, saya tak menyempatkan diri menemui bidan tersebut.

Masyarakat tempat kawan saya tinggal membangun pengetahuan khusus dan strategi untuk menghadapi Poppo’ seperti melemparkan garam pada mereka. Kata kawan saya garam membuat mereka kesakitan dan tak berani untuk masuk ke rumah “menyerang’ calon korban mereka. Bawang merah yang ditaruh di bawah bantal juga diyakini sebagai cara agar Poppo’ tak dapat mendekati calon korbannya. Penggunaan bawang juga kerap kita saksikan pada film-film mengenai vampir baik yang berkembang di barat maupun di daratan Cina.

Seperti halnya para vampir, Poppo’ juga dianggap dapat ditularkan kepada orang-orang di luar mereka. Jika di barat vampir dapat menyebabkan korbannya berubah menjadi vampir dengan satu gigitan, Poppo dapat ditularkan melalui lewat kutu dan ulat. Makanya menurut Abe kecil, para orang tua melarang anak-anak mereka untuk menginap di sembarang tempat. Di samping itu, para orang tua tak mau menikahkan anak-anak mereka dengan orang-orang yang dianggap Poppo’ 6.

Layaknya keluarga vampir dalam film Twilight, para Poppo’ juga membangun negosiasi terhadap masyarakat dimana mereka hidup didalamnya. negosiasi para vampir dalam film tersebut dilakukan dengan mengganti darah manusia dengan darah binatang, sedangkan para Poppo’ mengunci diri di kamar mandi jika naluri Poppo’ mereka muncul. Negosiasi ini sebagai cara untuk berdamai dengan lingkungan di mana mereka tinggal, khususnya pandangan miring orang-orang tentang mereka.

Dari kisah ini, saya mencurigai Poppo’ sebagai strategi kuasa, sebagaimana dibahasakan Foucault, yang bekerja dengan cara mengeksklusi (peminggiran) pihak-pihak tertentu. Kemungkinan Poppo ini sarat dengan muatan politis, apalagi di tahun-tahun tersebut situasi pasca kemerdekaan penuh gejola politik. Kemungkinan lainnya Poppo’ bisa jadi sejenis gejala psikis dan medis, melihat bahwa mereka yang digolongkan sebagai Poppo’ hanya bereaksi pada saat-saat tertentu, dengan perilaku yang tak sadarkan diri, ditambah mereka yang menjadi Poppo” adalah keturunan dari orang tua mereka sangat ditentukan oleh faktor genetis. Sisi kemungkinan lainnya, Poppo’ diciptakan sebagai penguat norma-norma sosial. Alhasil, saya tidak ingin menarik kesimpulan dari data-data yang masih sangat hijau, juga sangat diperlukan studi-studi mendalam termasuk sejarah di tahun-tahun tersebut.


catatan
* Barat memiliki kisah tentang vampir, di tanah bugis sendiri memiliki kisah tentang Poppo’. Seperti halnya vampir, Poppo’ kerap diceritakan sebagai ancaman atau teror.
1 Nama kawan tersebut adalah Abdulrahman. Kami memanggilnya dengan singkatan nama Abe dan menambahkan kata ”kecil“, untuk membedakannya dengan seorang kawan lainnya yang bernama sama dengan badan lebih besar.
2 Menurut Abe, Poppo’ berbeda dengan parakan. Berbeda dengan poppo’, seseorang menjadi parakan ketika salah mempelajari ilmu tertentu, yang seringkali disebutkan sebagai ilmu tarekat. Kesalahan ini kemudian melahirkan ilmu hitam. Selain itu Poppo hanya menyerang orang-orang sakit sedangkan parakan menyerang baik orang sakit maupun orang sehat. Terdapat cerita tentang parakan yang mengatakan ketika ‘beraksi’ ia melepaskan kepala dari tubuhnya kemudian terbang menuju calon korban. Parakan dikenal tidak hanya oleh masyarakat bugis. Sewaktu di Sulawesi Tenggara dulu nama ini juga digunakan.
3 Menurut Abe Kecil, Poppo’ muncul diperkiraan di tahun 40an hingga 50an, awalnya generasi pertama yang menjadi Poppo’ menelan korban dari salah satu warga Hingga sekarang terdapat dua rumpun keluarga yang dianggap sebagai Poppo’.
4 Seorang kawan dari Toraja juga menceritakan kisah serupa, meski dengan nama yang sedikit berbeda yaitu Popok’.
5 Abe menunjukkan hal ini dengan menceritakan seorang yang dianggap poppo’ dipilih sebagai penanggung jawab dalam pelaksanaan program desa. Ia melihat hal ini sebagai bentuk pelibatan mereka dalam ruang-ruang politik.
6 Dari perkataan Abe, terdapat beberapa kasus para orang tua melarang anak-anak mereka melakukaan pernikahan dengan mereka yang dianggap Poppo’. Hal ini dikuatirkan akan menjangkiti pasangan. Orang-orang yang menikah dengan mereka hanyalah orang-orang luar.
 
Sang Alang. Design by Pocket